Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

Parkir 2000 (Cerpen)


Oleh: Laily Maulidatus Sa'adah

Suasana di kampus lagi panas-panasnya. Maklum, waktunya ujian akhir semester. Hari ini adalah hari terakhir UAS mata kuliah Reporting. Keesokannya, Akeroluh kembali bisa menarik nafas lega.
Parahnya, kalau musim ujian gini, kebiasaan buruk mereka kambuh. Mereka yang mengaku sebagai mahasiswa-mahasiswa berprestasi jadi demen nyontek. Nah, lho? Padahal menurut bu Fatimah selaku dosen PKN semester I, menyontek adalah salah satu perilaku tak terpuji. Tapi ya gimana lagi? Nggak nyontek berarti nggak bisa ngerjain soal. Nggak bisa ngerjain soal berarti dapet C atau D. Dapet C pun udah untung. Dan ujung-ujungnya ngulang semester depan. Itu artinya harus meluangkan waktu dan mengeluarkan lebih banyak biaya lagi. Nah, kalau kayak gini siapa yang rugi, coba? Jelas orangtua mereka. Saat itu nurani mereka tergerak,mereka nggak mau menyengsarakan orangtua yang sudah membesarkan dan merawat mereka hingga menjadi segede gini. Mereka nggak mau seperti Malin Kundang yang durhaka sama orangtua. Yaa simpel aja kok alasan mereka demen nyontek pas ujian. Nggak lebih!!!

Senin, 31 Oktober 2011

ANDREAS (Cerpen)


Oleh : Saidi Rifky 
Setiap hari Andreas harus bangun pagi buta dan sibuk dengan aktifitasnya sendiri dari mulai bangun shubuh melakukan shalat subuh berjamaah dan ikut pengajian kitab kuning bersama ustadz Ali yang tidak jauh dari rumahnya, Anderas pun tidak mesti ikut pengajian sampai selesai karena pekerjan lain dirumah masih menunggu. Keluarga andreas memang beda dengan keluarga lain, disaat keluarga yang lain masih mendengkur menikmati istirahat panjang dan hangatnya tidur pagi, justru keluarga ini harus sibuk dengan aktifitas di waktu subuh.

Minggu, 30 Oktober 2011

rencana dibalik Rencana (Cerpen)


Oleh : Syamsudhuha Firman Ridho


(Cerpen Penggugah Semangat)


Kokok ayam membangunkan tidurku. Setelah mandi dan pakaian seragam rapi melekat pada tubuh, bergegas aku ke halte Bus Trans Jogja yang mana Bus Trans Jogjat tersebut  lebih kecil dari Trans Jakarta. Shelternya tidak jauh dari kos-ku. Aku putuskan menuntut ilmu di salah satu SMA yang ada di kota Jogja setelah lulus SMP di kota Lamongan. Aku sendiri terlahir sebagai anak kota Gresik yang terkenal dengan Semen-nya. Aku suka Jogja yang terkenal sebagai kota pelajar dan budaya, yang pasti lingkungannya mendukung untuk belajar. Kurogoh saku celana, kudapati uang dua lembar lima ribuan. Berarti uang ini hanya cukup buat bayar transport PP (Pulang-Pergi) ke sekolah dan makan sekali untuk hari ini.